Minggu, 20 Oktober 2013

PEMANFAATAN JAGUNG SEBAGAI PENGGANTI BERAS UPAYA MEMBANGUN KETAHANAN PANGAN DAERAH DI INDONESIA


BAB I

PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Pangan memiliki peran strategis dengan dimensi yang sangat luas dan komplek. Ketersediaan dan distribusi pangan serta keterjangkauan daya beli masyarakat bahkan menjadi issue sentral dalam kebijakan pembangunan Nasional dan Daerah. Jaminan ketersediaan pangan bagi seluruh masyarakat berperan penting bagi terciptanya stabilitas ekonomi, sosial, dan politik nasional. Oleh karena itu, suatu upaya pemenuhan kebutuhan pangan dan penciptaan ketahanan pangan selalu mendapat prioritas dan kebijakan Pembangunan Nasional.
Menurut UU RI No. 7 Tahun 1996 Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia paling utama, karena itu pemenuhan pangan merupakan bagian dari hak azazi individu. Pemenuhan pangan juga sangat penting sebagai komponen dasar untuk membentuk sumber daya manusia berkualitas untuk melaksanakan pembangunan. Pangan yang aman, bermutu, bergizi, beragam dan tersedia cukup merupakan persyaratan utama yang harus dipenuhi dalam upaya terselenggaranya suatu sistem pangan yang memberikan perlindungan bagi kepentingan kesehatan serta berperan dalam meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
Pada tahun 2004, dibidang pembangunan daerah terutama ditujukan untuk mengurangi kemiskinan di wilayah perkotaan maupun perdesaan melalu pemberdayaan masyarakat, pelaksanaan otonomi daerah yang lebih berkualitas termasuk aparat pemerintah daerah yang bersih dan akuntabel sejalan dengan perkembangan politik yang ada. Oleh karena itu, peran pemerintah daerah  sangatlah penting dalam membangun ketahan pangan di Indonesia.
Saat ini pemenuhan kebutuhan makanan pokok diberbagai daerah di Indonesia bertumpu pada beras. Fakta menunjukan bahwa ketergantungan pada satu jenis karbohidrat melemahkan ketahanan pangan. Oleh karena itu diperlukan sumber karbohidrat lain yang berbasis pada sumber daya lokal.
Menurut Anonim (2012) pangan lokal adalah pangan yang diproduksi didaerah setempat untuk dikonsumsi dan atau tujuan ekonomi. Dengan demikian pangan lokal adalah pangan yang bukan hasil impor. Jagung merupakan salah satu jenis bahan pangan yang berpotensi dikembangkan sebagai pangan lokal.
Jagung juga sudah dikenal oleh masyarakat dari segi nutrisi, kandungan gizi jagung juga cukup lengkap dan energinya setara dengan beras. Akan tetapi pada faktanya, penggunaan sebagai bahan pakan yang sebagian besar untuk ternak ayam ras menunjukkan tendensi makin meningkat setiap tahun dengan laju kenaikan lebih dari 20%. Sebaliknya, penggunaan jagung untuk bahan pangan menurun (Adisarwanto dan Erna, 2000).

2.1  Rumusan Masalah

Dalam makalah ini, penulis menguraikan mengenai pemanfaatan jagung sebagai pengganti beras upaya membangun ketahanan pangan yang berhubungan dengan otonomi daerah. Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :
1.      Bagaimana jagung dapat mengatasi ketahanan pangan daerah-daerah di Indonesia?
2.      Bagaimana setiap daerah membangun system dan usaha agribisnis jagung?
3.      Apa upaya pemerintah membangun ketahanan pangan dalam pemanfaatan jagung ?

3.1  Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini antara lain sebagai berikut:
1.      Mengetahui bagaimana jagung dapat mengatasi ketahanan pangan daerah-daerah di Indonesia.
2.      Menganalisis membangun sistem dan usaha agribisnis jagung
3.      Mengetahui upaya pemerintah membangun ketahanan pangan dalam pemanfaatan jagung.





BAB II

PEMBAHASAN


Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesi  No. 68 tahun 2002 tentang ketahanan pangan dalam BAB VI Pasal 13 ayat 1 tertulis dengan jelas bahwa “Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota dan/atau Pemerintah Desa melaksanakan kebijakan dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan ketahanan pangan di wilayahnya masing-masing, dengan memperhatikan pedoman, norma, standar, dan kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat”. Demi menguatkan peran dan tanggung jawab pemerintah daerah juga ada kesempatan bersama Gubernur/ ketua Dewan Ketahanan Pangan Provinsi yang salah satunya adalah “untuk mengembangkan berbagai program dan kegiatan ketahanan pangan yang komprehensif serta berkesinambungan dalam rangka memantapkan ketahanan pangan nasional”. Program dan kegiatan tersebut menjadi prioritas program pembangunan daerah.
Program peningkatan ketahanan pangan dimaksudkan untuk mengoperasionalkan pembangunan dalam rangka membangun sistem ketahanan pangan baik di tingkat nasional maupun ditingkat masyrakat. Pangan dalam arti luas mencakup pangan yang berasal dari tanaman, hasil ternak, dan ikan untuk memenuhi kebutuhan atas karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin serta mineral yang bermanfaat bagi pertumbuhan kesehatan manusia.
Image atau citra bahwa pangan hanya disimbolkan dengan beras semata adalah meruapakan inti permasalahannya. Semua orang seperti didorong makan nasi alias beras. Padahal masih banyak sumber pangan lain yang dapat kita manfaatkan untuk mengganti ataupun melengkapi konsumsi beras ini. Ada singkong, ubi jalar, sagu, jagung, suweg, gembili, kentang, ganyong, dan masih banyak bahan alternatif lainnya yang nilai gizinya tidak kalah, bahkan memiliki kelebihan dibandingkan beras. Misal pada biji jagung yang memiliki kandungan vitamin A paling tinggi diantara biji-bijian lainnya.[1]
Mantan Menteri Pertanian Anton Apriantono mengatakan perlu adanya perbaikan pola pikir (mindset) masyarakat Indonesia, tentang pangan yang dikonsumsi. Menurut dia, selama ini orang selalu menganggap bahwa yang namanya makan itu harus nasi. Hal itu dilontarkan Pak Anton, saat ditanya tanggapannya tentang pernyataan Anggota Komisi VI DPR Hasto Kristianto yang mengatakan Indonesia tengah menghadapi krisis pangan .[2]
Nasi adalah primadona bagi sebagian masyarakat Indonesia. Jika belum makan dengan nasi serasa belum makan. Hal ini yang terjadi pada sebagian masyarakat Indonesia. Memang tidak ada yang di rugikan namun upaya pemerintah dalam penganekaragaman pangan atau diversifikasi pangan terhambat.
Ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan nasional. Ada tiga alasan utama yang melandasi adanya kesadaran dari semua komponen bangsa atas pentingnya ketahanan pangan yaitu: (1) akses atas pangan yang cukup dan bergizi bagi setiap penduduk merupakan salah satu pemenuhan hak azasi manusia; (2) konsumsi pangan dan gizi yang cukup merupakan basis bagi pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas;(3) ketahanan pangan merupakan basis bagi ketahanan ekonomi, bahkan bagi ketahanan nasional suatu negara berdaulat.
Salah satu bahan pangan sebagai pengganti beras atau nasi adalah jagung. Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif. Jagung dapat ditanam diberbagai daerah di Indonesia contohnya Jawa Timur : 5 jt ton; Jawa Tengah : 3,3 jt ton; Lampung : 2 jt ton; Sulawesi Selatan: 1,3 jt ton; Sumatera Utara : 1,2 jt ton; Jawa Barat : 700 – 800 rb ton, sisa lainnya (NTT, NTB, Jambi dan Gorontalo) dengan rata-rata produksi jagung nasional 16 jt ton per tahun.

2.1 Peranan Jagung dalam Ketahanan Pangan

Selama ini komoditas pangan yang diusahakan petani adalah padi dan jagung. Oleh karena itu untuk memperkokoh ketahanan pangan komoditas jagung yang merupakan bahan pangan setelah komoditas padi, maka perlu dipertahankan. Dengan pergeseran pola makan petani, jagung yang semula diusahakan sebagai sumber pangan menjadi salah satu sumber pakan ternak, dan kebutuhannya memperlihatkan tren meningkat. Untuk mencukupi kebutuhan pangan dan pembuatan pakan ternak tersebut, makan kontinuitas ketersedian jagung harus dapat dipertahankan, karena jagung merupakan salah satu komponen bahan pakan yang harganya relatif murah.
Jagung bisa dipilih sebagai pengganti beras karena nilai gizinya tinggi dalam 100 gram jagung terdapat energi 154 kilokalori. Jagung juga mengandung antioksidan dan kaya betakaroten sebagai pembentuk vitamin A. Tak hanya itu, jagung merupakan sumber asam lemak esensial linolenat yang penting untuk pertumbuhan dan kesehatan kulit, dan juga kaya akan serat.
Jagung saat ini sering dikonsumsi oleh sebagian masyarakat Indonesia sebagai pengganti nasi, dalam berpartisipasi untuk pelaksanaan diversifikasi pangan yang dicanangkan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga yang terkait. Itulah sebabnya mengapa akhir-akhir ini banyak petani yang menanam jagung sebagai alternatif pengganti makanan pokok berupa nasi yang sering dikonsumsi oleh orang Indonesia. Budidaya tanaman jagung tidaklah sulit dan tidak begitu membutuhkan perlakuan ekstra seperti yang dilakukan pada budidaya tanaman padi.
Sebagai contoh daerah yang memanfaatkan jagung sebagai pengganti beras adalah daerah Kalimantan Tengah. Produksi jagung di Kalimantan Tengah mengalami peningkatan pada tahun 2004 sebesar 969 ton sedangkan pada tahun 2005 mencapai 2400 ton yang tersebar diseluruh kabupaten/kota di Kalimantan Tengah (BPS Kalimantan Tengah, 2006).
            Dari data BPS[3] Kalimantan Tengah tersebut menunjukan bahwa produksi jagung disalah satu daerah di Indonesia berpeluang untuk dilakukannya diversifikasi pangan. Diversifikasi pangan menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan ketahan pangan. Diversifikasi konsumsi pangan tidak hanya sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada beras tetapi juga peningkatan gizi untuk mendapatkan manusia yang berkualitas dan mampu berdaya saing dalam percaturan globalisasi (Himagizi, 2009).
            Pengelolaan usaha tani jagung yang optimal berpeluang meningkatkan keuntungan finansial yang berarti, sehingga membuka peluang peningkatan pendapatan petani. Dalam pengelolaan usaha tani jagung tersebut diperlukan teknologi untuk meningkatkan kapasitas produksi diantaranya benih unggul, hasil tinggi. Ciri utama benih unggul baru adalah sangat responsive terhadap input yang diberikan sehingga jumlah produksi dapat dinaikan.[4]

2.1.1          Kandungan Gizi dalam Jagung

Jagung merupakan salah satu komoditas utama pertanian sebagai bahan pangan penting selain padi. Jagung merupakan salah satu komoditas palawija utama penghasil karbohidrat dan merupakan menu makanan yang bersifat substitusi atau suplemen bagi manusia. Jagung sebagai salah satu sumber hidrat arang dapat dijadikan makanan pengganti nasi. Jagung mengandung 361 kal/  gram bahan, sedangkan beras mengandung 360 kal/100 gram bahan. Kandungan protein dan lemak jagung bahkan lebih tinggi dari pada beras. Kandungan protein jagung 9,0 gram/100 gram bahan, sedangkan beras hanya 7,6 gram/100 gram bahan. Kandungan lemak jagung 4,5 gram/100 gram bahan sedangkan beras 0,7 gram/ 100 gram bahan. Demikian pula dengan kandungan yang lain, jagung lebih unggul dari pada beras. Kandungan kalsium, fosfor dan zat besi jagung berturut-turut 9 mg, 380 mg, 4,6 mg/ 100 gram bahan, sedangkan beras 6 mg, 147 mg, 8,8 mg/ 100 gram bahan. Secara lengkap kandungan gizi jagung dan beras diperlihatkan dalam tabel 1.
Tabel 1 1Kandungan Gizi Pada Jagung
Kandungan Gizi
Jagung
Beras
Energi (kal)
361
360
Karbohidrat (g/100g)
72
79
Protein (g/100g)
9,0
7,6
Lemak (g/100g)
4,5
0,7
Ca (mg/100g)
9
6
P (mg/100g)
380
147
Fe (mg/100g)
4,6
0,8

Salah satu kelebihan lain jagung adalah kandungan provitamin A yang tinggi dalam bentuk pigmen. Oleh para ahli, jagung memiliki kandungan nutrisi tinggi yang bermanfaat bagi tubuh. Jagung kaya akan vitamin B1 yang bermanfaat untuk penyerapan karbohidrat dalam tubuh, dan vitamin B5 yang membantu normalnya fungsi-fungsi fisiologis, dan vitamin C yang membantu melawan penyakit. Kandungan folat jagung juga dinilai dapat  membantu menghasilkan sel-sel baru di dalam tubuh. Tak dipungkiri, jagung juga makanan tinggi serat, jagung pun berperan menurunkan kadar kolesterol dengan cara menyerap koresterol jahat, mengurangi risiko kanker usus besar, serta menurunkan kadar gula dalam darah. Nilai lebih lain dari jagung adalah kandungan komposisi gizinya lebih komplek dibanding beras.

2.1.2         Produktivitas  Jagung di Indonesia

Sebagai salah satu alternatif pangan pokok jagung sudah popular di seluruh dunia. Di Indonesia, daerah-daerah penghasil utama tanaman jagung adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Madura, Daerah Istimewa Yogyakarta,  Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Maluku.  Khusus di daerah Jawa Timur dan Madura, tanaman jagung dibudidayakan cukup intensif. Daerah-daerah tersebut dijadikan komuditas utama dalam penghasil jagung.  Karena daerah tersebut memiliki lahan pertanian yang luas hingga sangat mendukung untuk pertumbuhan tanaman jagung. Perkembangan jagung juga dipengaruhi oleh kondisi pertanamannya.
Kondisi tersebut karena tanaman jagung mempunyai adaptasi yang luas dan relatif mudah dibudidayakan, sehingga komoditas ini ditanam oleh petani di Indonesia padalingkungan fisik dan sosial-ekonomi yang sangat beragam. Jagung dapat ditanam pada lahan kering, lahan sawah, lebak, dan pasang-surut, dengan berbagai jenis tanah, pada berbagai tipe iklim, dan pada ketinggian tempat 0–2.000 m dari permukaan laut.
Selama periode 2001-2006, rata-rata luas areal pertanaman jagung di Indonesia sekitar 3,35 juta ha/tahun dengan laju peningkatan 0,95% pertahun. Luas areal pertanaman jagung menduduki urutan kedua setelah padi sawah. Jika dibandingkan dengan komoditas lain, luas pertanaman jagung hanya 0,32 kali dari luas pertanaman padi, dan 5,32 kali luas pertanaman kedelai (Tabel 1).
Produktivitas jagung di Indonesia masih sangat rendah, baru mencapai 3,47 t/ha pada tahun 2006, namun cenderung meningkat dengan laju 3,38% per tahun. Masih rendahnya produktivitas menggambarkan bahwa penerapan teknologi produksi jagung belum optimal. Dalam periode 1990-2006, produksi jagung rata-rata 9,1 juta ton dengan laju peningkatan 4,17% per tahun (Tabel 2). Terindikasi bahwa peningkatkan produksi jagung di Indonesia lebih ditentukan oleh perbaikan produktivitas daripada peningkatan luas panen (laju peningkatan 0,96%).
Jagung dibudidayakan pada lingkungan yang beragam. Hasil studi Minket al.  (1987) menunjukkan bahwa sekitar 79% areal pertanaman jagung terdapat di lahan kering, 11% terdapat di lahan sawah irigasi, dan 10% di sawah tadah hujan. Saat ini data tersebut telah mengalami pergeseran. Berdasarkan estimasi Kasryno (2002), pertanaman jagung di lahan sawah irigasi dan sawah tadah hujan meningkat berturut-turut menjadi 10-15% dan 20-30%, terutama di daerah produksi jagung komersial.
Penerapan inovasi teknologi di tingkat petani masih beragam, bergantung pada orientasi produksi (subsisten, semi komersial, komersial), kondisi kesuburan tanah, risiko yang dihadapi, dan kemampuan petani membeli atau mengakses sarana produksi. Penyebaran penggunaan varietas pada tahun 2005 adalah 22% hibrida, dan selebihnya komposit (unggul dan lokal). Angka ini masih di bawah Thailand yang telah menggunakan benih jagung hibrida hingga 98%, sedangkan Filipina sudah menggunakan benih hibrida 65%. Masih mahalnya benih hibrida dan pertimbangan risiko yang dihadapi, cukup banyak petani yang menanam benih hibrida turunan (F2). Pemakaian benih hibrida merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan produksi jagung.





Tabel 1. Luas panen tanaman pangan dalam periode 2001-2006.
Tahun
Luas panen (juta ha)
Padi
sawah
Padi
ladang
Jagung
Kacang
tanah
Kedelai
Kacang
hijau
Ubi
kayu
Ubi
jalar
2001
10,62
1,18
3,29
0,68
0,82
0,32
1,28
0,19
2002
10,42
1,08
3,13
0,66
0,68
0,34
1,32
0,18
2003
10,40
1,09
3,36
0,68
0,53
0,35
1,25
0,20
2004
10,80
1,12
3,36
0,72
0,57
0,31
1,26
0,19
2005
10,73
1,11
3,63
0,72
0,62
0,32
1,21
0,18
2006
10,71
1,07
3,35
0,71
0,58
0,31
1,22
0,17
Rata-rata
r (%/th)
10,61
1,11
3,35
0,70
0,63
0,33
1,26
0,19
*) Angka sementara[5]
Sumber: BPS dan Ditjen  Tanaman Pangan (2006).

Tabel 2. Perkembangan areal, produktivitas, dan produksi jagung di
Indonesia, 1990-2006.
Tahun Areal panen Produktivitas Produksi
Areal Panen
(‘000 ha)
Produktivitas
(ton/ha)
Produksi
(‘000 ton)
1990
3.158
2,13
6.734
1991
2.909
2,15
6.255
1992
3.629

2,20
7.995
1993
2.939
2,20
6.459
1994
3.109
2,21
6.869
1995
3.651
2,26
8.245
1996
3.744
2,49
9.307
1997
3.355
2,61
8.771
1998
3.456
2,94
10.169
1999
3.848
2,39
9.204
2000
3.500
2,76
9.677
2001
3.286
2,79
9.165
2002
3.127
3,09
9.654
2003
3.359
3,24
10.886
2004
3.357
3,34
11.225
2005
3.625
3,45
12.523
2006
3.346
3,47
11.609
Rata-rata
3.346
2,69
9.103
r (%/th)
0,96
3,38
4,17
Perkembangan areal, produktivitas, dan produksi jagung di Indonesia, 1990 2006).[6]

2.2      Sistem dan Usaha Agribisnis Jagung

            Produksi jagung di Indonesia masih relatif rendah dan masih belum dapat memenuhi kebutuhan konsumen yang cenderung terus meningkat. Menurut Subandi dkk. (1998), produksi jagung nasional belum mampu mengimbangi permintaan yang sebagian dipacu oleh pengembangan industri pakan dan pangan. Masih rendahnya produksi jagung ini disebabkan oleh berbagai faktor antara lain, seperti teknologi bercocok tanam yang masih kurang baik, kesiapan dan keterampilan petani jagung yang masih kurang, penyediaan sarana produksi yang masih belum tepat serta kurangnya permodalan petani jagung untuk melaksanakan proses produksi sampai ke pemasaran hasil.
Umumnya agribisnis jagung dilakukan berskala kecil, karena masih banyaknya permasalahan yang dihadapi oleh petani jagung. Permasalahan klasik yang sering dihadapi oleh petani jagung adalah terbatasnya permodalan, manajemen usaha dan pemasaran hasil sehingga tidak dapat melakukan usaha dengan volume usaha yang luas dan lebih intensif serta pemasaran hasil dengan baik. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani jagung diantaranya adalah dengan system kemitraan usaha dalam agribisnis jagung.
Jagung memiliki potensi yang cukup besar untuk diusahakan secara agribisnis, hal ini karena tanaman ini memiliki prospek yang cerah untuk diusahakan baik dari aspek budidaya maupun dari aspek peluang pasar.
Dari aspek budidaya tanaman jagung tidak sulit untuk dibudidayakan. Tanaman jagung dapat tumbuh hampir di semua jenis tanah yang terpenting dan sangat berhubungan erat dengan hasil jagung adalah tersedianya unsur hara NPK pada tanah tersebut. Untuk pertumbuhan yang lebih baik lagi, tanaman jagung memerlukan tanah yang subur, gembur dan kaya humus (Sudjana dkk., 1991). Demikian juga benih jagung telah banyak varietas-varietas unggul yang dilepas. Menurut Rahmanto (1997), perkembangan daya hasil dari varietas-varietas unggul yang diadopsi petani telah terbukti memberikan sumbangan yang tidak kecil terhadap peningkatan produksi dan produktivitas jagung nasional.
Secara konsepsional sistem agribisnis jagung merupakan keseluruhan aktivitas yang saling berkaitan mulai dari pembuatan dan pengadaan sarana produksi pertanian hingga pemasaran hasil jagung, baik hasil usaha tani maupun hasil olahannya. Menurut Sa’id dan Intan (2001) sistem agribisnis terdiri dari subsistem pengadaan dan penyaluran sarana produksi, subsistem produksi primer, subsistem pengolahan, subsistem pemasaran dan lembaga penunjang.
Pada umumnya sistem agribisnis jagung yang dilakukan oleh petani antara lain meliputi:
1.       Subsistem pembuatan, pengadaan dan penyaluran sarana produksi pertanian. Sarana produksi pertanian ini diperoleh petani dengan sistem pembelian atau dengan bantuan dalam bentuk kemitraan.
2.       Subsistem produksi dalam usahatani. Kegiatan pada subsistem ini meliputi pemilihan benih jagung, penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman dan panen.
3.       Subsistem pengolahan hasil panen. Penanganan lepas panen jagung pada tingkat petani pada umumnya baru sampai pada pengeringan jagung tongkol dan pengupasan kulit jagung (klobot), hal ini karena petani belum memiliki alat teknologi dan biaya yang cukup untuk melakukan pengolahan lanjutan. Tingkat pengolahan lanjutan seperti pemipilan dan pengolahan dilakukan pada tingkat pedagang atau perusahaan, sehingga nilai tambah yang besar biasanya berada pada tingkat ini.
4.       Subsistem pemasaran hasil. Pola pemasaran jagung melalui jalur pemasaran yang beragam, diantaranya bagi petani yang tidak melakukan kemitraan usaha dengan perusahaan mitra biasanya pemasaran jagung dilakukan melalui pedagang pengumpul baik yang memfungsikan kelompok tani atau koperasi maupun yang tidak, ada pula yang langsung menjual produknya ke pabrik pengolahan atau langsung ke konsumen jika produk tersebut untuk langsung dikonsumsi. Bagi petani yang telah melakukan kemitraan usaha dengan perusahaan mitra pemasaran produk jagung dilakukan melalui kelompok tani atau koperasi, perusahaan mitra, pabrik pengolahan dan konsumen.
5.       Kelembagaan pendukung agribisnis jagung pada umumnya adalah lembaga di tingkat petani dan lembaga di luar petani. Lembaga ditingkat petani terdiri dari kelompok tani dan koperasi, Lembaga di luar petani seperti pemerintah, lembaga keuangan, perusahaan dan lain-lain.

2.2.1 Produk Olahan Jagung

       Jagung merupakan bahan pangan yang sangat familiar di masyarakat kita namun, jagung belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai bahan baku snack, kue atau hidangan. Harga Jagung relatif murah dan mudah didapat, menguntungkan sebagai bahan baku menu atau hidangan untuk berwirausaha boga.   Sayangnya saat ini belum banyak penganekaragaman dari jagung. Padahal dilihat dari kandungan gizinya, jagung kaya akan karbohidrat, vitamin dan beragam mineral penting lainnya. Karbohidratnya yang tinggi, cocok sebagai alternatif sumber kalori pengganti nasi. Jagung juga kaya akan serat dan rendah kalori, sangat baik bagi Anda yang sedang menjalani diet menguruskan badan.  Berdasarkan urutan bahan makanan pokok di dunia, jagung menduduki urutan ke 3 setelah gandum dan padi.
Di Indonesia sendiri, jagung merupakan komoditi tanaman pangan kedua terpenting setelah padi. Bahkan dibeberapa daerah seperti Madura dan Gorontalo, jagung merupakan makanan pokok. Jagung ditanam setiap musim sehingga selalu tersedia sepanjang tahun. Jika jagung telah ditanam atau diusahakan masyarakat setempat, ini berarti jagung mampu memberi peluang berusaha, dapat dilakukan dan diterima oleh masyarakat setempat sehingga berdampak pada penyerapan tenaga kerja serta pengembangan industri-industri kecil dan menengah. Jagung berperan penting dalam perekonomian nasional dengan berkembangnya industri pangan yang ditunjang oleh teknologi budi daya dan varietas unggul.

2.2.2 Nilai Tambah Produk Olahan Jagung

Berdasarkan komposisi kimia dan kandungan nutrisi, jagung mempunyai prospek sebagai pangan dan bahan baku industri. Pemanfaatan jagung sebagai bahan baku industri akan memberi nilai tambah bagi usahatani komoditas tersebut. Penanganan dan pengolahan hasil pertanian memang penting untuk meningkatkan nilai tambah, terutama pada saat produksi melimpah dan harga produk rendah, juga untuk produk yang rusak atau bermutu rendah.  Jenis makanan hasil olahan dari jagung seperti kue kering, kastengels, cake dan brownies. Pengolahan kue berbahan baku jagung sudah pasti untuk tujuan meningkatkan nilai tambah dari jagung, di samping mendorong tumbuhnya industri skala rumah tangga guna menyerap tenaga kerja keluarga dalam upaya meningkatkan kesejahteraan penduduk pedesaan dan petani jagung khususnya.  Jagung dapat diolah menjadi berbagai produk olahan.   Beberapa olahan jagung yang dapat dikembangkan ditingkat petani adalah sebagai berikut :
a.       Tortila/Kerupuk Jagung
Salah satu hasil olahan jagung yang cukup digemari adalah tortilla atau kerupuk jagung. Kecenderungan konsumen yang lebih menyukai produk makanan ringan yang praktis dan siap santap seperti kerupuk jagung ini nampaknya memberikan harapan baru bahwa diversifikasi jagung menjadi kerupuk jagung dapat diterima oleh masyarakat indonesia. Proses pengolahan produk ini cukup sederhana sehingga berpotensi membuka peluang usaha sebagai industri rumah tangga.  Mutu produk olahan yang baik dapat meningkatkan nilai jual dan memperluas pasar. Pengolahan kerupuk jagung dilakukan dengan 3 tahap (pembuatan tepung jagung, pembuatan nasi jagung, dan pembuatan kerupuk jagung).
b.      Emping Jagung
Emping jagung adalah biji jagung yang dipress tipis seperti emping.  Di beberapa negara emping jagung ini disebut corn flake.  Produk ini dapat di konsumsi dengan dicampur susu dan biasanya digunakan untuk sarapan.  Cara seperti ini di Indonesia belum membudaya.  Meskipun demikian keberadaan emping jagung di Indonesia dewasa  ini semakin berkembang dan berdampak positif dalam usaha diversifikasi menu makanan dengan menambahkan bahan tambahan seperti coklat, susu dan selai.
c.       Cookies Jagung
Cookies jagung menggunakan bahan dasar dari tepung jagung atau maizena yang banyak dijual dipasaran. Cookies jagung biasa disebut sebagai kue semprit karena dibuat dengan cara ditekan atau disemprotkan. Umumnya kue kering semprit dibuat dengan creaming methode, maksudnya adalah mentega/margarin dikocok bersama gula.
Adapun bahan yang digunakan untuk membuat cookies jagung adalah tepung terigu, tepung jagung, mentega, gula pasir halus, soda kue, vanilla dan berbagai manisan buah kering (sukade) untuk mempercantik bentuk kue.
d.      Kastengels Jagung
Dalam mengembangkan olahan jagung dari bahan baku tepung jagung,  maka tepung jagung dapat diolah menjadi kastengels berbeda dengan cookies jagung kastengels tanpa penambahan gula akan tetapi dapat ditambah keju atau royco untuk memberikan rasa gurih.  Adapun beberapa bahan yang digunakan untuk  membuat kastengels adalah  tepung jagung, tepung terigu,  mentega,  susu bubuk,  sendok teh royco,  telur ayam,  soda kue/baking powder dan keju.
e.       Bolu kukus jagung
Untuk membuat bolu kukus maka dipilihlah jagung manis sebagai bahan dasar sedangkan jagung yang dipilih adalah jagung manis yang baru, aromanya segar, biji jagungnya penuh dan berjajar rapi. Agar lebih praktis, Anda bisa membeli jagung manis yang sudah dikupas, asalkan melihat tanggal produksinya. Jangan lupa, belilah dalam jumlah secukupnya. Sebab jagung manis yang sudah dikupas hanya bertahan dua hari jika disimpan dalam kulkas.  Adapun bahan yang digunakan dalam bolu kukus jagung adalah gula pasir, gula merah, air, tepung terigu, soda kue, ragi instant, telur, minyak jagung dan jagung manis pipilan.
f.       Dodol Jagung
Terobosan baru untuk mengembangkan produk jagung yaitu dengan mengolahnya menjadi dodol jagung manis rendah kalori. Hal ini dikarenakan harga jagung di pasaran yang relatif murah sehingga dengan usaha dodol tersebut dapat dijadikan alternatif usaha baru bagi petani jagung. Cara tersebut merupakan langkah yang efektif untuk meningkatkan pendapatan para petani khususnya. Proses pembuatan dodol jagung cukup mudah dan membutuhkan waktu yang singkat. Dodol jagung manis memiliki keunggulan yaitu dapat dikonsumsi oleh penderita diabetes. 
g.      Susu Jagung
Susu jagung merupakan cairan yang berwarna putih kekuningan yang berasal dari ekstrak biji jagung dengan atau tanpa penambahan bahan lainnya.   Jagung yang dibuat untuk membuat adalah jagung manis.  Kandungan nutrisi jagung adalah karbohidrat, lemak dan protein jagung.  Protein jagung mempunyai komposisi asam amino yang cukup baik, sedangkan jumlah kandungan protein dan lemak jagung ini bervariasi tergantung umur dan varietasnya.  Kandungan lemak dan protein jagung muda lebih rendah dibandingkan dengan jagung tua, sehingga susu jagung ini cocok untuk dikonsumsi oleh penderita cholesterol. 
h.      Mie Jagung
Mie merupakan salah satu jenis pangan yang sudah sangat dikenal dan disukai oleh masyarakat dari berbagai lapisan, yang biasa dikonsumsi sebagai makanan sarapan atau makanan selingan. Terdapat berbagai jenis mie yang dikenal masyarakat yang dapat dikelompokkan menjadi mie mentah, mie matang, mie kering, dan mie instan. Mie tersebut umumnya dikonsumsi dalam berbagai bentuk olahan pangan, seperti mie goreng, soto mie, toge goreng, mie rebus, mie ayam, dsb. Saat ini mie yang banyak beredar di pasaran adalah mie dengan berbahan dasar tepung terigu, dimana gandum sebagai bahan baku tepung terigu ini harus diimpor. Berdasarkan uji organoleptik, mie jagung substitusi memiliki kekenyalan dan elastisitas yang mirip dengan mie terigu, di samping juga rasa khas jagungnya yang tetap ada.
Dengan berkembangnya teknologi pengolahan maka jagungpun dapat diolah atau disubstitusi menjadi berbagai macam produk makanan.  Sehingga mengembangkan diversifikas pangan olahan yang berbasis jagung, dengan adanya diversifikasi olahan jagung menjadi berbagai produk diatas ini diharapkan akan menambah deretan perbendaharaan hasil olahan jagung dan dapat meningkatkan konsumsi jagung untuk pangan. Hal ini tentunya akan memberikan multiplier effectbagi petani jagung, yaitu memberikan jaminan terserapnya produksi jagung oleh industri pangan, selain oleh industri pakan ternak  serta dapat mengurangi konsumsi beras.

2.3 Upaya Pemerintah Membangun Ketahanan Pangan dalam Pemanfaatan Jagung

Berdasarkan penelitian pada 2010, konsumsi beras masyarakat Indonesia mencapai 100 kilogram per kapita per tahun. Untuk mengurangi ketergantungan itu, perlu ada perubahan konsep dan kebiasaan makan masyarakat untuk mengganti nasi dengan makanan jenis lain. Salah satu cara yang belakangan dikampanyekan pemerintah adalah tidak memakan nasi selama satu hari. Kebiasaan ini, misalnya dilakukan satu hari dalam sepekan. Sebagai pengganti, selama sehari itu, warga bisa mengkonsumsi sumber karbohidrat lain seperti jagung, ubi, singkong, talas, kentang, dan sagu.
Upaya  pemerintah yang dilakukan untuk membangun ketahanan pangan berupa penggantian jagung sebagai bahan pokok. Pemerintah menghimbau agar masyarakat Indonesia bisa merubah persepsi “jika belum ketumu nasi maka belum makan”. Masuknya beras-beras impor membuat para petani Indonesia semakin terpuruk. Salah satu contoh program pemerintah yang sudah diterapkan, yaitu program “One Day No Rice[7]” terdapat di kota Depok. Program ini dimaksudkan untuk mengurangi konsumsi masyarakat terhadap beras dengan di ganti makanan pokok atau pangan lainnya seperti sayuran, buah-buahan, protein hewani maupun nabati., dan umbi-umbian (jagung dan singkong).
Kampanye mengurangi makan nasi ini bagian dari upaya pemerintah pusat untuk mensukseskan diversifikasi pangan nasional, Hal ini agar ketergantungan pangan pada nasi/beras tidakterlalu tinggi sehingga stabilitas pangan bisa tetap terjaga. Sebagai bahan perbandingan ketika era tahun 1950-60-an ketergantungan pangan masyarakat Indonesia pada nasi atau beras masih sebesar 53%, namun kini ketergantungan itu semakin tinggi hingga 92-95%. 

























BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Makalah tentang pemanfaatan jagung sebagai pengganti beras upaya membangun ketahan pangan dapat disimpulkan bahwa jagung memiliki nilai tambah dan nilai gizi yang lebih besar dibandingkan dengan beras. Ketersediaan jagung sebagai pengganti bahan pokok dapat membangun system kemitraan usaha dalam agribisnis jagung sehingga pemerintah memberikan upaya-upaya yang dapat menjadikan jagung sebagai pengganti beras untuk membangun ketahan pangan.
Dengan berkembangnya teknologi pengolahan maka jagungpun dapat diolah atau disubstitusi menjadi berbagai macam produk makanan.  Sehingga mengembangkan diversifikasi pangan olahan yang berbasis jagung, dengan adanya diversifikasi olahan jagung menjadi berbagai produk diatas ini diharapkan akan menambah deretan perbendaharaan hasil olahan jagung dan dapat meningkatkan konsumsi jagung untuk pangan. Hal ini tentunya akan memberikan multiplier effectbagi petani jagung, yaitu memberikan jaminan terserapnya produksi jagung oleh industri pangan, selain oleh industri pakan ternak  serta dapat mengurangi konsumsi beras.
Upaya  pemerintah yang dilakukan untuk membangun ketahanan pangan berupa penggantian jagung sebagai bahan pokok. Pemerintah menghimbau agar masyarakat Indonesia bisa merubah persepsi “jika belum ketumu nasi maka belum makan”. Masuknya beras-beras impor membuat para petani Indonesia semakin terpuruk. Salah satu contoh program pemerintah yang sudah diterapkan, yaitu program “One Day No Rice” terdapat di kota Depok.

3.2 Saran

Pemeritah harus dapat mengubah persepsi masyarakat bahwa jika  tidak ketemu nasi maka belum makan. Melakukan penyuluhan atau sosialisasi kepada seluruh masyarakat dengan memanfaatkan jagung sebagai bahan pokok.  Selain itu, pemerintah harus mebuat kebijakan tentang pembatasan impor jagung dan beras.

DAFTAR PUSTAKA


Adisarwanto, T., dan Erna Widyastuti, 2000. Meningkatkan Produksi Jagung. Penebar Swadaya, Jakarta.

Anonim. 2012.  Ada banyak pilihan pengganti nasi. http://www.tempo.co. [22 Februari 2013]

Masturi. 2009. Artikel ilmiah kemitraan agribisnis jagung.  http://hasanawimasturi.blogspot.com. [22 Februari 2013]

Meta. 2009. Agribisnis jagung. http://blogs.unpad.ac.id.  [22 Februari 2013]

Purnama Adi. 2010. Diversifikasi Pangan Untuk Mengatasi Krisis Pangan Di Indonesia. IPB. Bogor.

Rahmanto, B. 1997. Perkembangan Adopsi Varietas Unggul Jagung Serta Dampaknya Terhadap Peningkatan Produksi dan Pendapatan Petani. Prosiding Agribisnis. Dinamika Sumberdaya dan Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Buku II. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Bogor.
Sa’id, E.G. dan A.H. Intan. 2001. Manajemen Agribisnis. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Subandi, I.G. Ismail dan Hermanto. 1998. Jagung Teknologi Produksi dan Pasca Panen. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.

Sudjana, A., A. Rifin dan M. Sudjadi. 1991. Jagung. Buletin Teknik No. 3. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Balai Penelitian Tanaman Pangan. Bogor.
Oleh:
Kelompok 10
A / P2
Siti Dita Aditianingsih               J3E111023
Astrid Dwi M.                                       J3E111053
Shelly Maulanie                        J3E111075
Suci Sari Ramadhani                  J3E111108
Salsa Karina A.                          J3E111136
Dian Putri P.                              J3E211168
TANYA:
1.      Khumairah: mengapa kelompok memilih diversifikasi nya jagung, padahal produktifitasnya rendah
2.      Niken: one day no rice, sosialisasinya
3.      Muti’ah Afifah: one day no rice, bagaimana melihat masyarakat bener2 tidak makan nasi?
4.      Herni: bagaimana merubah mindset masyarakat mengenai ‘nasi’
5.      Chaesalpinia: komponen jagung semua bisa dimnfaatkan
6.      Ayu: program one day no rice efektif atau ngga?
7.      Embun: Usaha yg perlu dilakukan?
8.      Galih prayoga: harga jagung lebih mahal dari beras? Bagaimana lahan yg sedikit di negara lain bisa menjaga ketahanan nasional?
9.      Ambar: bagaimana merubah mindset



[1] Sumber : Agustina F., 2008
[2] Sumber : Himagizi, 2009
[3] BPS = Badan Pusat Peneliti
[4] Sumber : Suryana, 2005
[5] Sumber: BPS dan Ditjen  Tanaman Pangan (2006)
[6] Sumber: Departemen Pertanian (2007)
[7] One Day No Rice= satu hari tanpa nasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar